Istri yang Baik Abu Bakar As-Siddiq dan Ali Bin Abi Talib

Tidak ada komentar 189 views
Unsplash

Belum lama berselang dari waktu meninggalnya Jaafar bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash-Shidiq datang untuk meminang Asma ‘binti Umais setelah wafatnya istri beliau Ummu Rumaan. Tidak ada alasan lagi bagi Asma ‘menolak pinangan orang seutama Abu Bakar Ash Shidiq, begitulah akhirnya Asma` pindah ke rumah Abu Bakar Ash Shidiq untuk menambahkan cahaya kebenaran dan cahaya iman dan untuk mencurahkan cinta dan kesetiaan di rumah tangganya.

Setelah sekian lama dia melangsungkan pernikahan yang penuh berkah, Allah mengaruniai kepada mereka berdua seorang anak laki-laki. Mereka ingin melangsungkan haji wada ‘, maka Abu Bakar menyuruh istrinya untuk mandi dan meyertai haji setelah Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam memintanya.

Asma` menyaksikan peristiwa demi peristiwa yang besar, namun peristiwa yang paling besar adalah wafatnya pemimpin anak Adam dan terputusnya wahyu dari langit. Kemudian beliau juga menyaksikan suaminya, Abu Bakar, memegang tampuk kekhalifahan bagi kaum muslimin sehingga suaminya merampungkan problematika yang sangat rumit seperti memerangi orang murtad, memerangi orang-orang yang tidak mau berzakat serta mengirim pasukan Usamah dan sikapnya yang teguh laksana gunung tidak ragu -ragu dan tidak pula khawatir, demikian pula ia menyaksikan bagaimana pertolongan Allah diberikan kepada kaum muslimin dengan sikap iman yang teguh tersebut.

Asma`senantiasa menjaga agar suaminya senantiasa merasa senang dan ia hidup bersama suaminya dengan perasaan yang tulus turut memikul beban bersama suaminya dalam urusan umat yang besar.

Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama sebab khalifah Ash-Shidiq sakit dan semakin bertambah parah hingga keringat membasahi pada bagian atas kedua pipi beliau. Ash-Shidiq dengan ketajaman perasaan seorang mukmin yang shiddiq merasakan dekatnya ajal beliau sehingga beliau bersegera untuk berwasiat. Adapun di antara wasiat beliau adalah agar ia dimandikan oleh istrinya Asma ‘binti Umais, di samping itu beliau berpesan kepada istrinya agar berbuka puasa yang mana beliau berkata: “Berbukalah karena hal itu membuat dirimu lebih kuat.”

Asma` merasa telah dekatnya wafat beliau sehingga beliau membaca istirja` dan memohon ampun sedangkan kedua mata beliau tidak berpaling sedikitpun dari memandang suaminya yang ruhnya kembali dengan selamat kepada Allah. Hal itu membuat Asma` meneteskan air mata dan bersedih hati, akan tetapi sedikitpun dia tidak mengatakan sesuatu kecuali yang diridhai Allah Tabaraka Wa Ta`ala, dia tetap bersabar dan berteguh hati.

Selanjutnya beliau menunaikan hal penting yang diminta oleh suaminya yang telah tiada, karena beliau adalah orang yang paling bisa dipercaya oleh suaminya.

Mulailah ia memandikan suaminya dan hal itu menambah kesedihan dan kesusahan beliau sehingga beliau lupa terhadap wasiat yang kedua. Beliau bertanya kepada para muhajirin yang hadir, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa, namun hari ini adalah hari yang sangat dingin, apakah dapat bagiku untuk mandi?” mereka menjawab, “Tidak.”

Di akhir siang seusai dimakamkannya Ash-Shidiq tiba-tiba Asma` binti Umais ingat wasiat suaminya yang kedua yakni agar beliau berbuka (tidak melanjutkan shaum). Lantas apa yang akan dilakukannya sekarang? Sedangkan waktu hanya tinggal sebentar lagi, menunggu matahari tenggelam dan orang yang shaum diperbolehkan untuk berbuka? Apakah dia akan menunggu sejenak saja untuk melanjutkan puasanya?

Kesetiaan terhadap suaminya telah menghalangi dia untuk mengkhianati wasiat suaminya yang telah pergi, maka ia mengambil air dan minum kemudian berkata: “Demi Allah aku tidak akan melanggar janjinya hari ini.”

Setelah kepergian suaminya, Asma` melazimi rumahnya dengan mendidik putra-putranya baik dari Ja`far maupun dari Abu Bakar, dia menyerahkan urusan anak-anaknya kepada Allah dengan memohon kepada-Nya untuk memperbaiki anak-anaknya dan Allah pun memperbaiki mereka sampai mereka menjadi imam bagi orang-orang yang bertakwa. Inilah puncak dari harapannya di dunia dan ia tidak mengetahui takdir yang akan menimpa beliau yang tersembunyi di balik ilmu Allah.

Dialah Ali bin Abi Talib saudara dari Ja`far yang memiliki dua sayap mendatangi Asma ‘untuk meminangnya sebagai wujud kesetiaan Ali kepada saudaranya yang ia cintai yaitu Ja`far begitu pula Abu Bakar Ash Shidiq.

Setelah berulang-ulang berpikir dan mempertimbangkannya dengan matang maka ia memutuskan untuk menerima lamaran dari Abi Thalib sehingga kesempatan tersebut dapat ia gunakan untuk membantu membangun putra-putra saudaranya Ja`far. Maka berpindahlah Asma` ke dalam rumah tangga Ali setelah wafatnya Fatimah Az Zahra dan ternyata beliau juga memiliki suami yang paling baik dalam bergaul. Senantiasa Asma` memiki posisi yang tinggi di mata Ali sampai beliau sering mengulang-ulang di setiap tempat, “Di antara wanita yang memiliki syahwat telah menipu kalian, maka aku tidak menaruh kepercayaan di antara wanita melebihi Asma` binti Umais”.

Allah memberikan kemurahan kepada Ali dengan mangaruniai anak dari Asma` yang bernama Yahya dan AUNAN, berlalulah hari demi hari dan Ali menyaksikan pemandangan yang asing yakni putra saudaranya Ja`far sedang berbantahan dengan Muhammad bin Abu Bakar dan masing-masing membanggakan diri dari yang lain dengan mengatakan, “Aku lebih baik dari pada kamu dan ayahku lebih baik dari pada ayahmu.”

Ali tidak mengetahui apa yang mereka berdua katakan? Dan bagaimana pula memutuskan antara keduanya karena ia merasa simpati dengan keduanya? Maka tidak ada yang dapat ia lakukan selain memanggil ibu mereka yakni Asma` kemudian berkata: “Putuslah antara keduanya!”

Dengan pikirannya yang tajam dan hikmah yang mendalam beliau berkata: “Aku tidak melihat seorang pemuda di Arab yang lebih baik dari pada Ja`far dan aku tidak pernah melihat orang tua yang lebih baik dari pada Abu Bakar. ”

Inilah yang menyelesaikan urusan mereka berdua dan kembalilah kedua bocah tersebut saling merangkul dan bermain bersama, namun Ali merasa takjub dengan bagusnya keputusan yang diambil Asma` terhadap anak-anaknya, dengan menatap wajah istrinya, ia berkata: “Engkau tidak menyisakan untuk kami sedikit wahai Asma`?” Dengan kecerdasan yang tinggi dan keberanian yang luar biasa ditambah lagi adab yang mulia beliau berkata: di antara ketiga orang pilihan, kebaikan Anda masih di bawah kebaikan mereka. ”

Ali tidak merasa asing dengan jawaban istrinya yang cerdas, maka beliau berkata dengan ksatria dan akhlak yang utama berkata: “Seandainya engkau tidak menjawab dengan jawaban tersebut niscaya aku cela dirimu.”

Akhirnya kaum mislimin memilih Ali sebagai Khalifah setelah Utsman bin Affan, maka untuk kedua kalinya Asma`menjadi istri bagi seorang khalifah yang kali ini adalah Khalifah Rasyidin yang keempat, semoga Allah meridhai mereka semua.

Asma`turut serta memikul tanggung jawab sebagai istri khalifah bagi kaum muslimin dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang besar. Begitu pula dengan Abdullah bin Ja’far dan Muhammad bin Abu Bakar berdiri di samping ayahnya dalam rangka membela kebenaran. Kemudian setelah berselang beberapa lama wafatlah putra beliau Muhammad bin Abu Bakar dan musibah tersebut membawa pengaruh yang besar pada diri beliau, akan tetapi Asma` seorang wanita mukminah tidak mungkin meyelisihi ajaran Islam dengan berteriak-teriak dan meratap dan hal lain-lain yang dilarang dalam Islam . Tidak ada yang ia lakukan selain berusaha bersabar dan memohon pertolongan dengan sabar dan shalat terhadap penderitaan yang ia alami. Asma` selalu memendam kesedihannya sampai payudaranya mengeluarkan darah.

Belum lagi tahun berganti sampai bertambah parah sakit beliau dan menjadi lemah jasmaninya dengan cepat kemudian ia meninggal dunia. Yang tinggal hanyalah lambang kehormatan yang tercatat dalam sejarah setelah ia mengukir sebaik-baik contoh dalam hal kebijaksanaan, kesabaran dan kekuatan. [Paramuda / BersamaDakwah]



sumber:bersamadakwah.net

Pencarian Terkait

Tag: